Featured Post 7

Headlines News :

    Blogger news

    Blogroll

    About

    Gempa Dieng (2) : Tanggungjawab Siapa?

    Lambatnya bantuan, terutama dari pemda, membuat warga berang. Menurut Kholidin, BPBD Banjar Negara yang datang ke desa Kepakisan beberapa hari setelah gempa bahkan kemudian ditolak warga. “Sempat ribut sama Kepala Desa sebelum akhirnya mereka pergi,” ujar Kholidin. Kholidin mengaku belum ada sosialisasi program bantuan untuk rehabilitasi-rekonstruksi rumah-rumah yang rusak akibat gempa. “Akhirnya kami berinisiatif untuk membersihkan puing, merobohkan rumah yang konstruksinya sudah tidak layak secara gotong royong dengan swadaya masyarakat.”

    Bantuan tanggap darurat berupa sembako menurut Kholidin sudah mencukupi, termasuk tenda pengungsian yang didirikan PMI Cilacap. “Tenda-tenda itu milik (PMI) Cilacap, setelah beberapa hari, relawannya pada pulang lalu diserahkelolakan pada PMI setempat. Posko-posko dan bantuan tanggap darurat juga lebih banyak dari ormas dan lembaga bantuan dari luar daerah,” beber Kholidin.


    Kholidin bertutur, pada Pilkada Banjar Negara lalu, Kecamatan Batur, utamanya Dusun Pakisan memang bukan basis dukungan kontestan pemenang Pilkada. “Kalau kacamata politik yang dipakai ya susah, kan seharusnya kalau sudah menang semua jadi anaknya, baik yang mendukung maupun yang tidak. Nah, sekarang ada beberapa warga kami yang rumahnya harus dirubuhkan sementara secara swadaya mereka jelas-jelas tidak mampu untuk membangun kembali rumahnya. Ini tanggungjawab siapa?” ujar Kholidin berapi-api. [jw]

    Gempa Dieng (1) : Tanggungjawab Siapa?

    Dataran Tinggi Dieng, yang sesungguhnya adalah sebuah kaldera raksasa bekas letusan Gunung Perahu purba, memang secara alamiah menjadi kawasan potensial bencana alam. Berada di ketinggian rata-rata 2000m di atas permukaan laut, dataran tinggi Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif dengan kepundan kawah aktif bertebaran di wilayah itu. Berbagai bencana alam tercatat pernah melanda. Yang terdahsyat adalah letusan Kawah Sinila yang menebar gas beracun dan menewaskan 149 orang pada 1979. Bencana lain adalah terkuburnya desa Legetang akibat longsornya bukit Pengamun Amun yang menewaskan seluruh warga desa pada 1955.


    Pada Maret 2013, kawah Timbang yang berada di desa Sumber Rejo, Batur, Banjar Negara juga mengeluarkan gas beracun. Antisipasi cepat dari para pengampu kepentingan membuat bencana ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa.


    Tapi gempa 4,8 SR pada Jum’at 19 April lalu datang tiba-tiba. Walau tidak menimbulkan korban jiwa, sesar gempa yang meluas mengakibatkan ratusan rumah rusak berat dan tersebar dalam radius yang luas. Ribuan orang sempat mengungsi, tapi beberapa hari kemudian mereka sudah berani kembali ke rumah masing-masing pada siang hari, malam harinya masih banyak warga korban, terutama kaum ibu dan anak-anak terpaksa menginap di tenda pengungsian.


    Sepintas, bencana ini tidak begitu “besar”, terutama jika kacamata yang dipakai adalah jumlah korban, kerusakan, dan kerugian material. Tidak seperti gempa Yogyakarta (2006) yang masiv, gempa Dieng 2013 terasa “kecil”. Bisa jadi, pandangan seperti itulah yang membuat penanganan pasca bencana gempa Dieng tidak seheboh penanganan pasca bencana lain.


    Tidak banyak lembaga-lembaga bantuan bencana yang turun tangan, pun rencana bantuan rehabilitasi-rekonstruksi hingga sepekan setelah bencana belum terdengar oleh warga korban.


    “Memang aneh. Camat baru berkunjung tiga hari setelah kejadian. Wakil Bupati malah lebih lambat. Itu pun kami tidak mendengar ada komitmen bantuan yang serius,” tutur Kholidin, Ketua RT 03/01 Dusun Kepakisan, Batur, Banjar Negara. Ia pun sukarela menjadi koordinator aksi gotong royong yang melibatkan warga dan relawan. “Tidak seperti bencana longsor di Desa Tieng tahun kemarin, mungkin karena Tieng masuk wilayah kabupaten tetangga (Wonosobo).” (jw)

    Air Mata Seorang Highlander (2)

    Kholidin belum berhasil membujuk marzuki ketika rombongan guru SMP Negeri II Kejajar, Wonosobo, tempat Kabul (13), anak bungsu Marzuki (dua anaknya yang lain sudah berkeluarga dan tinggal di desa lain) menimba ilmu di kelas 7 datang menjenguk.


    Marzuki menyambut tamunya dengan senyum terkembang, ia pun minta tolong pada Kholidin untuk menjemput Kabul di tenda pengungsian. “Ada Bu Guru datang kok malah main terus, maaf ya, Bu,” ujar Marzuki.


    Ketika kembali diminta menceritakan kembali musibah yang dialami, Marzuki pun bertutur lancar. Gestur dan nada bicaranya menunjukkan lelaki sederhana itu menerima cobaan dengan keikhlasan luar biasa. “Kemarin ada wartawan datang. Saya disuruh begini (ia memperagakan pose sedang melamun dan menunjukkan kedukaan) untuk disoting di belakang rumah. Wartawan itu saya usir,” celoteh Marzuki.


    Matahari mulai tergelincir dari puncak tahtanya. Rombongan guru itupun pamitan.
    “Terimakasih sudah mau bersusah payah menengok kami. Saya hanya titip Kabul agar bisa terus sekolah,” ujar Marzuki melepas satu demi satu tetamunya.


    Tamu terakhir menyalaminya, menyelipkan amplop kecil ke dalam genggaman Marzuki, “Pak, ini dari guru-gurunya Kabul, sekadar buat bekal sekolah, nilainya tidak seberapa.”


    Marzuki terpana, lalau tertunduk, lalu berbalik, bersandar pada kusen pintu yang miring. Ia tidak berkata apa-apa, pundaknya terguncang. Bencana tidak membuat sang highlander  kehilangan semangat hidupnya, tapi ketika terpaksa menerima uluran tangan sesama, batu karang itu runtuh, air mata meleleh ke pipinya yang keriput. “Saya malu harus menengadahkan tangan.”

    Air Mata Seorang Highlander

    Sosok paro baya bertubuh kecil itu setegar karang. Ia menceritakan kembali gempa 4,8 SR (Jum’at 19 April lalu) yang memporak porandakan rumah kecilnya, dengan ringan. “Gusti Allah kalau memberi  ujian memang tidak tanggung-tanggung,” ujar dia sambil menunjukkan retakan –retakan lebar yang membelah-belah lantai semen rumahnya. Ketika sebatang bambu sepanjang 60 cm dimasukkan untuk mengukur kedalaman retakan, bambu itu amblas.


    Marzuki (62), warga RT 01 RW 01 Dusun Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjar Negara, Jawa Tengah adalah salah satu korban gempa bumi yang mengguncang dataran tinggi Dieng pekan lalu. Rumah semi permanen berdinding setengah bata berplafon rendah tempatnya bernaung bersama istri dan seorang anaknya, terletak di sudut kampung, berbatas bibir tebing dalam yang hanya diperkuat rumpun bambu mini. Stuktur tanah gembur, gempa susulan, dan musim hujan yang belum kunjung usai menjadi ancaman serius. Sewaktu-waktu rumah itu bisa runtuh.


    “Kami tidak berani menempati lagi rumah kami. Rencananya mau dibongkar total. Tapi uwak Juki tidak mau tidur di tenda penampungan atau di rumah kerabat,” tutur Irman (29), keponakan Marzuki. Rumah Irman berhimpitan dengan rumah Marzuki, kondisinya tidak lebih baik. Sama-sama berada di bibir jurang, Irman berencana memindahkan rumahnya ke pekarangan warisan milik Sohibul Hidayah (27) istrinya, yang lebih aman. “Tapi terus terang semua itu hanya rencana, saya tidak tahu bagaimana kami bisa membangun rumah lagi dengan kondisi ekonomi sekarang. Rumah baru hanya mimpi,” ujar Irman yang sehari-hari bekerja serabutan sebagai buruh tani atau tukang ojek.


    Marzuki yang kesehariannya  bekerja sebagai penyabit rumput bahkan tidak berani punya mimpi seperti Irman. “Ini tanah kami satu-satunya. Kata bapak-bapak ahli tanah yang meninjau ke sini, tanah kami sudah tidak layak untuk didirikan bangunan. Tapi mau pindah ke mana?”


    Sebagai buruh tani, tenaganya tidak lagi banyak dibutuhkan karena digerogoti usia. Untuk menambah penghasilan istrinya (yang juga bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp. 10.000 sampai Rp. 12.500 perhari), Marzuki memelihara kambing milik tetangga dengan sistim bagi hasil. Marzuki kebagian tugas merawat dan memberi pakan kambing, kalau kambingnya beranak, dibagi dua dengan pemilik.

    Sejauh ini, Marzuki belum mendengar ada rencana bantuan rehabilitasi rekonstruksi dari pihak manapun. Yang ada, warga bersepakat melaksanakan kerja bakti membongkar rumah-rumah yang secara struktural sudah tidak layak huni. Mereka khawatir gempa susulan atau hujan deras akan merubuhkan rumah-rumah kritis itu dan menimbulkan kerugian lebih besar. Rumah Marzuki masuk dalam daftar.

    “Ya kalau memang harus dirubuhkan nggak apa-apa. Tapi saya minta sisakan sedikit buat saya tidur,” ujar Marzuki pada Kholidin (46), Koordinator Kerja Bakti yang siang itu (Kamis, 25 April) mengunjungi rumahnya bersama tim ACT/MRI.

    “Pak Lik kan bisa sementara tinggal dulu di tenda atau di rumah saudara,” bujuk Kholidin.
    “Sementara? Sampai kapan? Saya tidak mau merepotkan orang lain,” Marzuki bergeming dengan pendapatnya.


    Kepada ACT, Marzuki mengaku hampir semua orang membujuknya untuk pindah sementara. “Memang semua orang bilang sama saya untuk tinggal di rumah mereka yang tidak kena gempa. Mau makan tinggal ambil, mau ganti baju juga silahkan pakai punya mereka. Niat baik itu saya tidak tolak. Tapi itu kan karena keadaan sekarang masih kacau. Lha nantinya apa saya harus terus begitu? Merepotkan orang dan hidup dari belas kasihan? Tidak. Saya tidak mau merepotkan orang lain. Biar saja saya tidur di rumah ini, kalau mau dibongkar, tolong sisakan sedikiiit saja..,” kata highlander (sebutan untuk warga di dataran tinggi Dieng) itu tegar. (jw)

    Hanya Butuh 4 Jam Untuk Bangun Indonesia Lebih Baik


    Entah kapan nanti ketika mengawali hari dengan bangun pagi anda merasakan udara tidak segar untuk dihirup. Air tidak jernih untuk mandi. Jalanan semakin macet dan membuat stres sebelum sampai tempat kerja. Sampai ditempat kerja anda tambah stress dihadapkan pada target kerja yang tidak manusiawi.

    Sementara suasana di kantor juga sudah tidak kondusif. Banyak diantara teman anda saling sikut untuk mendapatkan perhatian atasan. Harapannya kariernya cepat naik dan tentu penghasilan juga akan mengikuti. Hal ini bukan tanpa alasan karena harga kebutuhan pokok semakin tinggi akibat dari pengadaan bahan sembako saat nanti harus diimpor dari negara tetangga.

    Terlebih untuk menyekolahkan anak saat nanti bukan hal yang mudah. Harus menyiapkan biaya senilai bidang tanah seluas 2 kali lapangan di kampung kelahiran. Begitu juga dengan biaya kesehatan, diantara kita berusaha agar jangan sampai sakit daripada ditolak Rumah Sakit karena tak cukup biaya.

    Ya, itulah hal yang mungkin akan dialami oleh kita nanti. Belum lagi permasalahan seperti banjir diakibatkan oleh menumpuknya sampah di bantaran kali, tawuran suporter bola maupun pendukung kepala daerah yang kalah, seorang nenek tua yang tinggal dikandang ayam bersama 10 orang anaknya yang menderita gizi buruk, Dan masih banyak lagi permasalahan lainnya. Anda lebih tahu.

    Dan mirisnya, banyak diantara kita yang sangat pintar mengangkat permasalahan tadi menjadi obrolan hangat saat sore hari atau malam hari sambil minum kopi. Mencari akar permasalahan dan mencoba menyalahkan kondisi serta kebijakan dari pemerintah. Namun masih sedikit diantara kita yang sadar dan berusaha membuat solusi agar permasalahan tadi tidak lagi terjadi.

    Cara sederhana
    Menyisihkan waktu kita selama 4 jam tiap pekan untuk melakukan kerja bernilai social menjadi salah satu solusi. Seperti diungkapkan oleh Ahyudin presiden ACT dalam satu kesempatan dipertemuan Kuliah Kerelawanan , "saya berharap ada 5 juta orang yang mau menyisihkan waktuya minimal 4 jam setiap pekan untuk melakukan kerja-kerja sosial, saya yakin bangsa ini akan maju sejajar dengan Amerika."

    Lingkungan kita tidak akan berubah bila bukan kita sendiri yang berfikir dan berbuat untuk merubahnya. Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong semua itu bisa terjadi. Kita coba konversi jumlah waktu yang disisihkan untuk kerja sosial dengan nilai nominal. Dengan 4 jam sepekan atau 16 jam dalam sebulan kita berarti telah memberikan waktu senilai Rp 99. 230 ( dihitung dari UMR DKI Jakarta tahun 2011 sebesar Rp 1,29jt) atau sekitar Rp 496.150.000.000 sebulan bila ada sekitar 5 juta orang yang mau menyumbangkan waktunya untuk kerja sosial. Sungguh angka yang sangat fantastis bila dimanfaatkan untuk pembangunan.

    MRI - Masyarakat Relawan Indonesia dengan jaringan relawan seluruh nusantara. Mengajak masyarakat untuk menyisihkan waktu minimal 4 jam untuk bangun Indonesia lebih baik. Berbagai kegiatan kerja sosial yang sederhana bisa dilakukan seperti memberi motivasi kepada pasien di rumah sakit , membersihkan lingkungan setingkat RT, menanam pohon, membuat lubang biopori, memberi edukasi kepada anak jalanan, mengolah sampah, meng-kampanyekan cuci tangan sebelum makan, menggelar taman baca dan dongeng untuk anak, bahkan sampai melakukan simulasi gempa bisa dilakukan. Dan semua itu dilakukan dengan rutinitas setiap pekan sekali selama 4 jam. Lihatlah ketika menjadi kebiasaan sehingga menjadi budaya. Budaya menuju peradaban kepedulian.

    Hal yang sangat sederhana dan tidak serumit seperti benak kita bukan. Yakinlah cara tersebut akan menjadikan bangsa ini akan cepat maju bila konsusten dilakukan. Kapan anda siap untuk mulai ? 

    PARADIGMA RELAWAN

    Kata relawan dan kiprah kegiatan relawan sejatinya sudah biasa menghiasi telinga kita. Ini ditandai dengan pemberitaan besar-besaran tentang relawan saat bencana tsunami Aceh 2006 lalu. Alhasil saat ini setiap kali ada bencana maka disitu ada banyak relawan yang dengan gigih membantu para korban. Mulai dari evakuasi, distribusi bantuan, pelayanan kesehatan sampai kepada penyediaan rumah tinggal untuk para korban bencana saat fase recovery

    Dari kebiasaan tersebut menjadi sebuah pengertian tidak tertulis bahwa arti dan fungsi seorang relawan adalah menjadi tenaga sukarela yang terjun dan siap membantu para korban saat bencana melanda. Dan disaat-saat seperti itulah kita dan mayoritas orang akan terpanggil jiwanya untuk menjadi seorang relawan.

    Lantas pertanyaannya, apakah setelah bencana selesai tanggap darurat atau selesai masa recovery , tugas menjadi seorang relawan terhenti? Atau pengakuan bahwa kita sebagai seorang relawan yang gagah dan peduli juga sudah selesai?
    Tentu “tidak”. Kita sepakat akan jawaban itu.
    Terus apa yang akan kita lakukan setelah para korban kembali menjalani aktivitas harian seperti biasa saat sebelum terjadi bencana. Apakah kita hanya mengunggu dan “berharap” ada tugas baru lagi karena ada bencana ditempat lain?
    Sekali lagi kita akan sepakat bilang TIDAK.
    Ya, menjadi seorang relawan tidak pernah berhenti untuk peduli, berhenti dari rasa keterpanggilan, berhenti dari rasa ingin berbuat dan berhenti dari tugas-tugas kemanusiaan. Seorang relawan akan selalu peka terhadap keadaan dan mencari cara agar dia selalu bisa berbuat untuk memperbaiki suatu hal.
    Tugas dan peran penting seorang relawan tidak hanya dibutuhkan pada saat terjadi bencana. Seorang relawan selalu mewajibkan dan membiasakan dirinya untuk selalu bisa berbuat demi sebuah kebaikan. Dia tidak pernah terpaku pada kebiasaan orang lain yang selalu menyerah terhadap keadaan dan pasrah mengikuti arus, karena itu bertentangan dengan hati.
    Banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya menjadi seorang relawan. Dan menjadi kebiasaan dalam hidupnya, dengan  ada dan tidaknya bencana atau dengan ada dan tidaknya masalah kesenjangan yang ada, relawan selalu mengisi hari-harinya dengan kebaikan. Mulai dari mencegah sesuatu agar tidak berdampak kepada sebuah keburukan bagi kehidupan. Seperti terbiasa menghemat air, mematikan lampu listrik, membuang sampah pada tempatnya, mematuhi peraturan lalu lintas dan lainnya.
    Dalam kerja-kerja kerelawanan lain yang lebih besar dan lebih panjang jangka waktu manfaatnya. Kegiatan relawan bisa dilakukan bersama-sama seperti membersihkan lingkungan rumah, membersihkan bantaran kali, membuat lubang biopori (penyerapan air), menanam pohon, mengajar baca tulis bagi anak marginal, mengajar membaca bagi ibu-ibu, memberikan penyuluhan kesehatan, membuat peta mitigasi (pencegahan) bencana, memberikan training penanggulangan bencana, memberikan training kesiapsiagaan bencana dan masih banyak lagi kegiatan atau pekerjaan bernilai social dan bisa memberi dampak yang sangat luar biasa dimasa mendatang.
    Mereka yang sejatinya mengaku menjadi seorang relawan akan memberi suasana baru dalam kehidupan bermasyarakat. Suasana yang lebih kepada arah kenyamanan dan ketenangan. Tak pernah bisa diam ketika ada peluang untuk berbagi dan peduli memberikan manfaat kepada orang lain. Berbuat dan bersikap layaknya seorang relawan yang terus menebar manfaat kapan saja dan dimana saja.
    Paradigma seorang relawan yang berkembang di masyarakat diharapkan berubah dari mereka yang selalu terjun dan akan terjun hanya saat bencana, beralih kepada seorang yang siap memberikan kontribusi dan manfaatnya kepada lingkungan sekitar kapan saja dan dimana saja. Dan jadi relawan tentu menjadi hak siapa saja. Termasuk anda. Mau?

    BIARKAN BAJU SERAGAMMU BERSIH


    Menjelang pertengahan tahun ada banyak perubahan yang terjadi setelah melakukan evaluasi. Hal ini terjadi khususnya bagi sahabat kita yang sekarang masih duduk dibangku sekolah. Bagi semua siswa masa-masa pertengahan tahun akan menjadi moment perjuangan untuk menjalani dunia baru. Dunia berupa kelas, guru maupun sekolah atau kampus bagi siswa yang sekarang ini tengah menghadapi Ujian Nasional bagi kelas 6, 12 dan 3 SMA. Tak hanya guru maupun orang tua yang selalu berharap agar sahabat pelajar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan soal Ujian Nasional. Namun semua yang rindu bangsa ini semakin maju pasti juga mengharapkan sahabat pelajar mendapatkan hasil yang memuaskan.

    Semoga hasilnya seperti yang diharapkan karena tidak sedikit dari sahabat pelajar yang sedang menjalani Ujian Nasional mendapatkan fasilitas yang memadai dan bisa dikatakan lebih, untuk menunjang kegiatan belajar sahabat pelajar. Dengan fasilitas seperti gedung sekolah yang bagus, sarana belajar yag lengkap ditambah lagi les private atau bimbingan belajar tentu sahabat pelajar mempunyai motivasi tersendiri untuk menyelesaikan pendidikan disekolahnya.

    Namun situasi akan berbeda bila kita dan sahabat pelajar mau melihat di sekitar lingkungannya. Ternyata masih banyak kawan kita yang setiap hari diliputi rasa ketakutan karena tiang ruang sekolah tak lagi kuat menyangga atap. Panas atau dinginnya angin selalu menjadi selimut keseharian terlebih disaat hujan turun, kawan-kawan kita siap untuk menghindari buku tulisannya dari tetesan air yang leluasa masuk melewati atap yang bocor. Tak ayal baju seragam yang rencana dipakai sampai dihari ke 4 terpaksa harus dicuci dan esoknya harus menggunakan kaos "baju" bebas.

    Melihat kondisi demikian, sahabat pelajar tentu ingin berbuat lebih banyak untuk kawan-kawan kita yang mengalami kondisi demikian. Terus apakah yang bisa kita dan sahabat pelajar perbuat?

    Sahabat pelajar tak perlu berpikir bagaimana agar atap sekolah tak lagi bocor. Tak perlu berpikir bagaimana cara memasang jendela.Sahabat pelajar cukup membiarkan baju seragam-nya tetap bersih. Sehingga bisa dimanfaatkan oleh kawan kita yang kurang beruntung untuk mengikuti kegiatan belajar mereka.

    Ya biarkan baju seragammu bersih dan terhindar dari coretan spidol atau semprotan cat saat merayakan kelulusan. Karena bila ternyata kita tetap mengotorinya dengan coretan-coretan demikan, yakinlah ditempat lain banyak kawan-kawan kita yang menangis karena tak tega meminta uang ke orang tuanya untuk membeli baju seragam. Bila sahabat Pelajar melihat ada seorang kawan yang bernasib demiikian, apa yang akan diperbuat?

    Tidak ada salahnya  membiarkan baju seragammu bersih dan mengajak sahabat yang lain untuk berbuat hal yang sama dan mengumpulkannya. Kemudian diberikan kepada kawan kita yang membutuhkan. Bila sahabat pelajar bingung mau diberikan kemana? Relawan MRI - ACT siap membantunya.

     

    Featured Post 3

    Blogger templates

    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. DARI TAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger