Sosok paro baya bertubuh kecil itu setegar karang. Ia menceritakan kembali gempa 4,8 SR (Jum’at 19 April lalu) yang memporak porandakan rumah kecilnya, dengan ringan. “Gusti Allah kalau memberi ujian memang tidak tanggung-tanggung,” ujar dia sambil menunjukkan retakan –retakan lebar yang membelah-belah lantai semen rumahnya. Ketika sebatang bambu sepanjang 60 cm dimasukkan untuk mengukur kedalaman retakan, bambu itu amblas.
Marzuki (62), warga RT 01 RW 01 Dusun Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjar Negara, Jawa Tengah adalah salah satu korban gempa bumi yang mengguncang dataran tinggi Dieng pekan lalu. Rumah semi permanen berdinding setengah bata berplafon rendah tempatnya bernaung bersama istri dan seorang anaknya, terletak di sudut kampung, berbatas bibir tebing dalam yang hanya diperkuat rumpun bambu mini. Stuktur tanah gembur, gempa susulan, dan musim hujan yang belum kunjung usai menjadi ancaman serius. Sewaktu-waktu rumah itu bisa runtuh.
“Kami tidak berani menempati lagi rumah kami. Rencananya mau dibongkar total. Tapi uwak Juki tidak mau tidur di tenda penampungan atau di rumah kerabat,” tutur Irman (29), keponakan Marzuki. Rumah Irman berhimpitan dengan rumah Marzuki, kondisinya tidak lebih baik. Sama-sama berada di bibir jurang, Irman berencana memindahkan rumahnya ke pekarangan warisan milik Sohibul Hidayah (27) istrinya, yang lebih aman. “Tapi terus terang semua itu hanya rencana, saya tidak tahu bagaimana kami bisa membangun rumah lagi dengan kondisi ekonomi sekarang. Rumah baru hanya mimpi,” ujar Irman yang sehari-hari bekerja serabutan sebagai buruh tani atau tukang ojek.
Marzuki yang kesehariannya bekerja sebagai penyabit rumput bahkan tidak berani punya mimpi seperti Irman. “Ini tanah kami satu-satunya. Kata bapak-bapak ahli tanah yang meninjau ke sini, tanah kami sudah tidak layak untuk didirikan bangunan. Tapi mau pindah ke mana?”
Sebagai buruh tani, tenaganya tidak lagi banyak dibutuhkan karena digerogoti usia. Untuk menambah penghasilan istrinya (yang juga bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp. 10.000 sampai Rp. 12.500 perhari), Marzuki memelihara kambing milik tetangga dengan sistim bagi hasil. Marzuki kebagian tugas merawat dan memberi pakan kambing, kalau kambingnya beranak, dibagi dua dengan pemilik.
Sejauh ini, Marzuki belum mendengar ada rencana bantuan rehabilitasi rekonstruksi dari pihak manapun. Yang ada, warga bersepakat melaksanakan kerja bakti membongkar rumah-rumah yang secara struktural sudah tidak layak huni. Mereka khawatir gempa susulan atau hujan deras akan merubuhkan rumah-rumah kritis itu dan menimbulkan kerugian lebih besar. Rumah Marzuki masuk dalam daftar.
“Ya kalau memang harus dirubuhkan nggak apa-apa. Tapi saya minta sisakan sedikit buat saya tidur,” ujar Marzuki pada Kholidin (46), Koordinator Kerja Bakti yang siang itu (Kamis, 25 April) mengunjungi rumahnya bersama tim ACT/MRI.
“Pak Lik kan bisa sementara tinggal dulu di tenda atau di rumah saudara,” bujuk Kholidin.
“Sementara? Sampai kapan? Saya tidak mau merepotkan orang lain,” Marzuki bergeming dengan pendapatnya.
Kepada ACT, Marzuki mengaku hampir semua orang membujuknya untuk pindah sementara. “Memang semua orang bilang sama saya untuk tinggal di rumah mereka yang tidak kena gempa. Mau makan tinggal ambil, mau ganti baju juga silahkan pakai punya mereka. Niat baik itu saya tidak tolak. Tapi itu kan karena keadaan sekarang masih kacau. Lha nantinya apa saya harus terus begitu? Merepotkan orang dan hidup dari belas kasihan? Tidak. Saya tidak mau merepotkan orang lain. Biar saja saya tidur di rumah ini, kalau mau dibongkar, tolong sisakan sedikiiit saja..,” kata highlander (sebutan untuk warga di dataran tinggi Dieng) itu tegar. (jw)