Featured Post 7

Headlines News :
Home » » Air Mata Seorang Highlander (2)

Air Mata Seorang Highlander (2)

Written By Dony on Jumat, 10 Mei 2013 | 09.49

Kholidin belum berhasil membujuk marzuki ketika rombongan guru SMP Negeri II Kejajar, Wonosobo, tempat Kabul (13), anak bungsu Marzuki (dua anaknya yang lain sudah berkeluarga dan tinggal di desa lain) menimba ilmu di kelas 7 datang menjenguk.


Marzuki menyambut tamunya dengan senyum terkembang, ia pun minta tolong pada Kholidin untuk menjemput Kabul di tenda pengungsian. “Ada Bu Guru datang kok malah main terus, maaf ya, Bu,” ujar Marzuki.


Ketika kembali diminta menceritakan kembali musibah yang dialami, Marzuki pun bertutur lancar. Gestur dan nada bicaranya menunjukkan lelaki sederhana itu menerima cobaan dengan keikhlasan luar biasa. “Kemarin ada wartawan datang. Saya disuruh begini (ia memperagakan pose sedang melamun dan menunjukkan kedukaan) untuk disoting di belakang rumah. Wartawan itu saya usir,” celoteh Marzuki.


Matahari mulai tergelincir dari puncak tahtanya. Rombongan guru itupun pamitan.
“Terimakasih sudah mau bersusah payah menengok kami. Saya hanya titip Kabul agar bisa terus sekolah,” ujar Marzuki melepas satu demi satu tetamunya.


Tamu terakhir menyalaminya, menyelipkan amplop kecil ke dalam genggaman Marzuki, “Pak, ini dari guru-gurunya Kabul, sekadar buat bekal sekolah, nilainya tidak seberapa.”


Marzuki terpana, lalau tertunduk, lalu berbalik, bersandar pada kusen pintu yang miring. Ia tidak berkata apa-apa, pundaknya terguncang. Bencana tidak membuat sang highlander  kehilangan semangat hidupnya, tapi ketika terpaksa menerima uluran tangan sesama, batu karang itu runtuh, air mata meleleh ke pipinya yang keriput. “Saya malu harus menengadahkan tangan.”

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DARI TAMBI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger