Pada Maret 2013, kawah Timbang yang berada di desa Sumber Rejo, Batur, Banjar Negara juga mengeluarkan gas beracun. Antisipasi cepat dari para pengampu kepentingan membuat bencana ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
Tapi gempa 4,8 SR pada Jum’at 19 April lalu datang tiba-tiba. Walau tidak menimbulkan korban jiwa, sesar gempa yang meluas mengakibatkan ratusan rumah rusak berat dan tersebar dalam radius yang luas. Ribuan orang sempat mengungsi, tapi beberapa hari kemudian mereka sudah berani kembali ke rumah masing-masing pada siang hari, malam harinya masih banyak warga korban, terutama kaum ibu dan anak-anak terpaksa menginap di tenda pengungsian.
Sepintas, bencana ini tidak begitu “besar”, terutama jika kacamata yang dipakai adalah jumlah korban, kerusakan, dan kerugian material. Tidak seperti gempa Yogyakarta (2006) yang masiv, gempa Dieng 2013 terasa “kecil”. Bisa jadi, pandangan seperti itulah yang membuat penanganan pasca bencana gempa Dieng tidak seheboh penanganan pasca bencana lain.
Tidak banyak lembaga-lembaga bantuan bencana yang turun tangan, pun rencana bantuan rehabilitasi-rekonstruksi hingga sepekan setelah bencana belum terdengar oleh warga korban.
“Memang aneh. Camat baru berkunjung tiga hari setelah kejadian. Wakil Bupati malah lebih lambat. Itu pun kami tidak mendengar ada komitmen bantuan yang serius,” tutur Kholidin, Ketua RT 03/01 Dusun Kepakisan, Batur, Banjar Negara. Ia pun sukarela menjadi koordinator aksi gotong royong yang melibatkan warga dan relawan. “Tidak seperti bencana longsor di Desa Tieng tahun kemarin, mungkin karena Tieng masuk wilayah kabupaten tetangga (Wonosobo).” (jw)

Posting Komentar